Alhamdulillah, Saya mendapat kabar duduk di Kelas 586-R dengan no. urut ke-8 bersama para kawan mayoritas dari kelas intensif dan hampir semua sudah kenal. Ini kelas bukan bawah lagi, tapi di paling bawah diantara 17 ruang kelas 5 di Pondok Modern Darussalam Gontor Pusat. Title 'fasl taht' pasti akan Saya sandang untuk yang kedua kalinya, ini sudah tidak mengherankan dan sudah Saya tebak sebelumnya, tapi dengan pengalaman di 3 Int. L sebagai kelas sebelum terakhir Saya yakin bisa menyandang title itu dengan bahagia. Walaupun demikian dari total kelas 3 Int & 4 kemarin yang berjumlah total 21 ruang kelas, Saya harus sangat bersyukur, itu artinya ada 4 ruang kelas yang anggotanya pindah atau kurang beruntung sehingga Saya bisa lolos. Predikat baru yang akan Saya sandang mungkin 'Prolectar' atau 'Atlan' yang artinya tidak menjadi 'Manager' atau 'Mudabir' minimal di awal tahun. Ini adalah resiko juga kesempatan dan harus Saya manfaatkan sebaik mungkin untuk belajar lebih banyak dan giat demi impian 90 tahun Gontor. Harus di nikmati dengan senang hati dan diambil hikmahnya. Semua tidak ada yang percuma, pasti ada maksud dan tujuan. Seperti apa firman Allah yang sering disampaikan Wali Kelas Saya dulu, "Laa Yukallifullahaa illa wus'aahaa" yang artinya Allah tidak akan memberi kita cobaan diluar batas kemampuan kita, kalau kita ditakdirkan naik kelas 5 berarti sebenarnya kita mampu untuk melewatinya menuju 690. Man Jadda Wa Jada!
Melihat riwayat kelas,
Sebelum ujian masuk :
- Kelas A 1, Ust. Suryowindanta ~ Bekasi
Setelah ujian masuk :
- KPK A, Ust. David Yoga ~ Ponorogo
Sebelum placementest :
- 1 Int. C, Ust. Pamuji ~ Ponorogo
Setelah placementest :
- 1 Int. D, Ust. Muhammad Taufik ~ Probolinggo
- 3 Int. L, Ust. M Ali Mualim ~ Bengkalis, Riau
- 5 R, Ust. ? ? ?
Kalau diperhatikan itu tidak turun lagi, tapi terjun bebas. Saya sedang kandas sekarang, harus banyak berubah dan memperbaiki diri. Harus segera merevolusi diri, totalitas di pondok dan banyak sekali PR yang harus diselesaikan dan jangan sampai menjadikan diri ini putus asa. Sekarang, Saya lihat teman-teman Saya dulu tetap sukses bertengger di 'fasl fauq', semoga mereka tidak lupa dan mau peduli.
Yang terpenting, bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada sekarang ini sebaik mungkin dan menjauhi sikap menunda serta mengamalkan ilmu yang sudah di dapat. Tetap bahagia dan membahagiakan, belajar keras, berdoa keras dan usaha keras. All out, uddhuluu fii gontor kaffah!
(Tidak lupa masa susah, mencium aroma Gontor saja sudah anugerah)
Tunjukkan pada angkatan di SMP, walaupun tidak ada yang masuk SMA 1 Kebumen, minimal ada Saya yang masuk Pondok Modern Darussalam Gontor 1.
:-)
PERJUANGAN BELUM BERAKHIR!
Translate
Selasa, 22 Juli 2014
Alhamdulillah, Saya mendapat kabar duduk di Kelas 586-R dengan no. urut ke-8 bersama para kawan mayoritas dari kelas intensif dan hampir semua sudah kenal. Ini kelas bukan bawah lagi, tapi di paling bawah diantara 17 ruang kelas 5 di Pondok Modern Darussalam Gontor Pusat. Title 'fasl taht' pasti akan Saya sandang untuk yang kedua kalinya, ini sudah tidak mengherankan dan sudah Saya tebak sebelumnya, tapi dengan pengalaman di 3 Int. L sebagai kelas sebelum terakhir Saya yakin bisa menyandang title itu dengan bahagia. Walaupun demikian dari total kelas 3 Int & 4 kemarin yang berjumlah total 21 ruang kelas, Saya harus sangat bersyukur, itu artinya ada 4 ruang kelas yang anggotanya pindah atau kurang beruntung sehingga Saya bisa lolos. Predikat baru yang akan Saya sandang mungkin 'Prolectar' atau 'Atlan' yang artinya tidak menjadi 'Manager' atau 'Mudabir' minimal di awal tahun. Ini adalah resiko juga kesempatan dan harus Saya manfaatkan sebaik mungkin untuk belajar lebih banyak dan giat demi impian 90 tahun Gontor. Harus di nikmati dengan senang hati dan diambil hikmahnya. Semua tidak ada yang percuma, pasti ada maksud dan tujuan. Seperti apa firman Allah yang sering disampaikan Wali Kelas Saya dulu, "Laa Yukallifullahaa illa wus'aahaa" yang artinya Allah tidak akan memberi kita cobaan diluar batas kemampuan kita, kalau kita ditakdirkan naik kelas 5 berarti sebenarnya kita mampu untuk melewatinya menuju 690. Man Jadda Wa Jada!
Melihat riwayat kelas,
Sebelum ujian masuk :
- Kelas A 1, Ust. Suryowindanta ~ Bekasi
Setelah ujian masuk :
- KPK A, Ust. David Yoga ~ Ponorogo
Sebelum placementest :
- 1 Int. C, Ust. Pamuji ~ Ponorogo
Setelah placementest :
- 1 Int. D, Ust. Muhammad Taufik ~ Probolinggo
- 3 Int. L, Ust. M Ali Mualim ~ Bengkalis, Riau
- 5 R, Ust. ? ? ?
Kalau diperhatikan itu tidak turun lagi, tapi terjun bebas. Saya sedang kandas sekarang, harus banyak berubah dan memperbaiki diri. Harus segera merevolusi diri, totalitas di pondok dan banyak sekali PR yang harus diselesaikan dan jangan sampai menjadikan diri ini putus asa. Sekarang, Saya lihat teman-teman Saya dulu tetap sukses bertengger di 'fasl fauq', semoga mereka tidak lupa dan mau peduli.
Yang terpenting, bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada sekarang ini sebaik mungkin dan menjauhi sikap menunda serta mengamalkan ilmu yang sudah di dapat. Tetap bahagia dan membahagiakan, belajar keras, berdoa keras dan usaha keras. All out, uddhuluu fii gontor kaffah!
(Tidak lupa masa susah, mencium aroma Gontor saja sudah anugerah)
Tunjukkan pada angkatan di SMP, walaupun tidak ada yang masuk SMA 1 Kebumen, minimal ada Saya yang masuk Pondok Modern Darussalam Gontor 1.
:-)
PERJUANGAN BELUM BERAKHIR!
Tukang Sapu Halaman Rabithah
Pernah dalam perbincangan Saya bersama kawan ketika waktu santai membahas pekerja pondok yang sepertinya paling ikhlas membantu pondok.
Kami sepakat bahwa orang itu adalah Pak Tua penyapu halaman paving Rabithah yang biasa bertopi itu, setiap Saya pergi ke Rabithah secara tidak langsung mengamati pekerja itu.
Sapu adalah senjatanya selain cikrak yang kadang dibawanya, banyak kesaksian dari kawan2 yang pernah melihat beliau dengan suka hati menggunakan batang bambu 'genter' untuk menggugurkan dedaunan kering kecil2 milik pohon didepan Gedung Rabithah samping taman, tidak hanya pohon itu, beliau juga sering menggugurkan dedaunan kering pohon2 milik warga yang dahannya masuk area pondok. Dengan sabar beliau menyapu dedaunan kecil yang terserak tertiup angin. Bahkan siang hari beliaupun masih tetap semangat menyapu halaman paving nan luas itu.
Kalau kita sendiri, apa segitunya sampai menggugurkan dedaunan kering diatas pohon supaya cepat jatuh?
Inspiratif.
Rabu, 09 Juli 2014
Noblos di Gontor
Kita tidak tahu apapun, siapa calonnya dan mana yang akan kita pilih kita tidak tahu. Mereka semua juga datang dari Jawa Timur dan Ponorogo khususnya, sama sekali tidak ada hubungan dengan kami yang datang dari luar kota. Ya! Mereka adalah para calon legislatif.
Tiba2 kami disuruh kumpul dan diberi pengarahan tata cara menoblos serta instruksi dari Ustadz untuk tidak memilih partai nasionalis sekuler dan calon nonmuslim tanpa menyebut nama. Bahkan karena saking banyaknya surat undangan yang diberikan pihak KPU ke pihak pondok, membuat Asdtidz kewalahan untuk membagikan ke pemiliknya masing2 karena tidak ada data kelas dan rayon. Jadinya suratnya disebar acak kesuluruh Santri dan dipastikan semua mendapatkan satu2, supaya menoblos di TPS masing2 dan tidak Golput.
Ada 5 TPS yang tersebar dikomplek pondok khusus untuk para Santri dan Asatidz. Kami baru tau calegnya ketika pagi hari sebelum masuk kelas, bahkan yang kelasnya jauh dari TPS langsung masuk dan noblos ketika istirahat tanpa melihat2 siapa calegnya. Semua DPT yang terpajang beralamat di PMD Gontor sedangkan alamatnya ada dari beragam kota ditanah air. Kami hanya boleh menoblos dijam istirahat dan tidak ada kata libur.
Di TPS semua petugas adalah para bapak dan ibu sedangkan pemilihnya adalah kaum muda Santri Gontor, para pemilih pemula. Tidak ada kampanye disini, tidak ada atribut kampanye diarea pondok.
Ini adalah pengalaman luar biasa sekali seumur hidup yang tidak semua Santri Gontor merasakannya!
Kehebatan Masjid Jami' Gontor
Ingatkah apa kata Ust. Khusni pengasuh PMD Gontor 2 ketika kita masih calon pelajar?. Katanya, diantara banyak Masjid di dunia cuma ada tiga Masjid yang jamaahnya selalu ramai. Yaitu pertama di Mekah, kedua di Madinah dan yang terakhir ada di Ponorogo, yaitu Masjid Jami Gontor.
Memang ada Masjid yang lebih besar seperti Masjid Istiqlal dan Masjid Baiturrahman tapi kata beliau ketika lima waktu sholat jama'ahnya sangat sedikit. Tidak seperti di Gontor yang selalu ramai dengan ribuan Santri.
Selain itu, ribuan Santri yang sholat berjamaah di Masjid Jami' Gontor datang dari berbagai daerah di tanah air bahkan luar negri, semuanya memakai baju yang dimasukkan dengan bersarung yang rapi. Semuanya memakai peci hitam, atau songkok nasional. Jika kita amati lebih dalam, mereka bertakbiratul ihram sesuai madzhab yang mereka yakini. Karena mereka juga datang dari berbagai kalangan, dari NU, Muhammadiyah sampai Persis. Latar belakang keluarga mereka juga ada yang petani bahkan pejabat setingkat menteri. Semuanya sama menghadap Allah.
Luar biasa!
Langganan:
Postingan (Atom)